WHO: Infodemi Bakal Tetap Jadi Masalah Utama Walau Ada Vaksin Corona COVID-19
Di awal Februari, dengan wabah global COVID-19 menebar cepat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) keluarkan peringatan mengenai "infodemi" yaitu gelombang informasi palsu dan info yang keliru mengenai penyakit baru yang mematikan di sosial media.
taruhan bola dunia memahami kode pemasangan taruhan dalam judi bola
Saat ini, dengan keinginan tergantung pada vaksin COVID-19, WHO dan beberapa pakar mengingatkan jika peristiwa yang serupa bisa mencelakakan penyeluncuran program vaksin COVID-19 yang ditujukan untuk akhiri wabah. Begitu seperti merilis situs Kanal News Asia, Kamis (26/11/2020).
"Penyakit Virus Corona ialah wabah pertama kali dalam riwayat di mana tehnologi dan sosial media dipakai dalam jumlah besar untuk bikin orang masih aman, terinformasi, produktif dan tersambung," kata WHO.
"Di saat yang serupa, tehnologi yang kami utamakan untuk selalu tersambung dan terinformasi memungkinkannya dan perkuat infodemi yang tetap menghancurkan tanggapan global dan mencelakakan beberapa langkah untuk mengatur wabah," terang WHO kembali.
Lebih dari 1,4 juta orang sudah wafat semenjak wabah tampil di China tahun akhir lalu, tapi tiga pengembang telah ajukan permintaan kesepakatan supaya vaksin COVID-19 mereka dipakai di awal Desember.
Di luar logistik, pemerintahan harus juga hadapi skeptisisme atas vaksin yang ditingkatkan dengan kecepatan rekor di saat sosial media sudah jadi alat untuk info dan dusta mengenai virus.
WHO mendeskripsikan infodemi selaku info yang melimpah, baik online atau off line, terhitung "usaha yang disengaja untuk menebarkan info yang keliru".
Bulan kemarin, satu studi dari Cornell University di Amerika Serikat mendapati jika Presiden AS Donald Trump sudah jadi penggerak kekeliruan info COVID-19 paling besar di dunia sepanjang wabah.
Di bulan April, Trump pikirkan peluang memakai disinfektan pada tubuh untuk mengobati virus dan mempromokan perawatan yang tidak bisa dibuktikan.
Semenjak Januari, AFP sudah mengeluarkan lebih dari 2.000 artikel pengujian bukti yang membedah claim palsu mengenai Virus Corona COVID-19.
"Tiada keyakinan yang pas dan info yang betul, test diagnostik tidak dipakai, kampanye imunisasi--atau kampanye untuk mempromokan vaksin yang efektif--tidak akan penuhi sasaran mereka dan virus tetap akan berkembang," kata WHO.
Tiga pengembang vaksin--Pfizer-BioNTech, Moderna, dan AstraZeneca-Universitas Oxford--telah pimpin perubahan vaksin dan beberapa pemerintahan telah merencanakan untuk mulai memvaksinasi mereka yang paling rawan tahun ini.
"Tetapi dengan Facebook, Twitter, YouTube dan WhatsApp bertindak selaku vektor untuk bukti menyangsikan dan informasi palsu, disinformasi sekarang sudah capai rasio yang tidak tertandingi," kata Sylvain Delouvee, seorang periset Psikologi Sosial di Rennes 2 University.
Rory Smith dari website anti-disinformasi First Draft sepakat akan hal itu.
"Dari sudut pandang info, (kritis virus Corona) bukan hanya menggarisbawahi rasio misinformasi di penjuru dunia, dan juga imbas negatif misinformasi pada keyakinan pada vaksin, lembaga, dan penemuan ilmiah lebih luas," ucapnya.
Rachel O'Brien, Kepala Departemen Imunisasi WHO, menjelaskan tubuh itu cemas info palsu yang ditebarkan oleh apa yang disebutkan pergerakan "anti-vaxxer" bisa merintangi orang untuk mengimunisasi diri sendiri pada virus Corona.
"Kami benar-benar sedih mengenai itu dan sedih jika beberapa orang memperoleh informasi mereka dari sumber yang bisa dipercayai, jika mereka sadar jika ada beberapa info di luaran sana yang keliru. Entahlah menyengaja salah atau mungkin tidak menyengaja," ucapnya ke AFP.
Steven Wilson, seorang profesor di Brandeis University dan salah satunya penulis studi dengan judul Social Medium and Vaccine Hesitancy yang diedarkan di British Medical Journal bulan kemarin, menyaksikan jalinan di antara kampanye disinformasi online dan pengurangan vaksinasi.
"Ketakutan saya berkaitan imbas disinformasi di sosial media dalam kerangka COVID-19 akan tingkatkan jumlah pribadi yang sangsi untuk memperoleh vaksin, walau ketakutan mereka tidak mempunyai landasan ilmiah," ucapnya.
"Vaksin apa saja cuman seefektif kemampuan kami untuk menebarkannya ke satu komunitas."
Puuhan ribu masyarakat turun ke jalanan kota Berlin, Jerman lakukan tindakan penolanakan pada informasi virus corona. Untuk demonstran, berita virus corona ialah dusta atau hoax.
